Galilea Atau Laut Mati ?

 

Di sekitar negeri Palestina, Suriah dan Lebanon terdapat Danau Galilea dan Danau Laut Mati, walau sama-sama mendapatkan aliran air dari Sungai Jordan namun kedua danau tersebut sangat berbeda. Danau Galilea mempunyai panorama yang indah. Air hangat Danau Galilea memiliki banyak flora dan fauna yang hidup. Pada danau ini terdapat flora Fitoplankton, fauna terdapat Zooplankton, Benthos, dan ikan-ikan, contohnya Tilapia. Fauna yang terdapat di danau Galilea sangat beragam. Setiap tahunnya banyak turis yang datang menikmati keindahan danau ini.

Sedangkan danau Laut Mati punya kadar garam yang sangat tinggi sehingga tidak ada satu flora dan fauna bisa hidup didanau ini. Disekeliling danau tersebut juga gersang, danaunya mengeluarkan bau yang tidak sedap. Walau banyak turis yang datang itu karena danau ini punya keunikan yang tidak dimiliki danau lain yaitu turis bisa mengapung di danau tersebut.

Apa hikmah bisa diambil dari dua danau yang berbeda nasib ini?

Take and Give (memberi dan menerima), semakin banyak memberi maka semakin banyak manfaat yang kita peroleh. Bahwa setiap aksi akan melahirkan reaksi yang seimbang.

Setiap kali kita memberikan waktu, usaha, harta, pengalaman dan pengetahuan kepada orang lain, maka setiap itu pula orang lain akan membalasnya sesuai dengan yang kita berikan, bahkan lebih banyak lagi.

Danau Galilea menerima air dari Sungai Jordan dan setelah itu dia mengalirkan airnya ke  sungai sungai yang berada disekitar negeri Palestina dan Jordania. Sirkulasi air dan udara di danau Galilea yang menjadi lebih bersih. Dengan kondisi danau yang bersih dan kadar garam yang baik banyak fauna dan flora yang datang dan mendiami danau ini.  Sebaliknya danau Laut Mati menerima air dari Sungai Jordan dan menyimpan air tersebut. Kondisi ini menyebabkan kadar garam di danau Laut Mati menjadi tinggi, flora dan fauna tidak sanggup hidup dalam air ini.

Manusia yang baik adalah yang bersikap seperti danau Galilea, dia tidak pelit untuk membagikan ilmu dan hartanya kepada sesama yang membutuhkan. Dan sebaliknya seburuk-buruknya manusia yang bertindak egois hanya untuk kepentingan dirinya, dia enggan berbagi dengan manusia lainnya. Jiwanya mati seperti danau laut mati karena tidak memberi kemanfaatan sosial bagi yang lain. Kelak orang hanya mengenang dia karena prilaku kikirnya, dia menjadi museum bagi kemanusian dari sisi negatif.

Dalam agama, kita diajarkan bahwa Perumpamaan (nafqah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafqahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (kurnia-Nya) lagi Maha Mengetahui.(QS:2:261)

Alkitab mengatakan: Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan
Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kis. 20:35).

Dalam Ajaran Agama Hindu juga  mengatakan hal yang sama tentang memberi:

Samani Va Akutih, Samana Hrdayani Vah, Samana Astu Vo Mano, Yatha Va Susahasati (Rg Veda X.191.4) yang maknanya mengajarkan tentang kebersamaan, empati, dan mendoakan kebahagiaan bersama, yang mencakup memberi kasih sayang dan bantuan.

Budha dalam Tripitaka mengajarkan: Dhammapada (Bab 17, Bait 247): "Memberi lebih baik daripada menerima; memberi lebih disukai daripada menerima. 

Mari terus menabur kebaikan, maka pada waktunya kita juga akan menuainya.









Komentar