TANTANGAN DAN PELUANG GURU DI ERA DIGITAL

 


TANTANGAN DAN PELUANG GURU DI ERA DIGITAL

 

A.    PENDAHULUAN

Sejak tahun 2006 saya sudah bertugas sebagai seorang guru. Menjadi guru 18 tahun yang lalu dan hari ini memiliki tantangan dan peluang yang jauh berbeda. Demikian juga 10 tahun ke depan tantangan dan peluangnya akan terus mengalami perubahan. Sebagai seorang guru harus selalu siap dengan segala perubahan yang terjadi, khususnya di dunia pendidikan. Menghadapi anak-anak yang hidup di zaman petak umpet dan patok lele tentu sangat berbeda jauh dengan zaman digital yang serba elektronik.

Dalam 4 tahun terakhir perkembangan teknologi semakin maju pesat dan semakin canggih (Adawiyah, 2022). Perkembangan teknologi terjadi secara terus menerus tanpa disadari. Pesatnya teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk pendidikan (Agustin, 2021). Dengan perkembangan teknologi tersebut, manajemen dalam dunia pendidikan tidak lagi dapat mengandalkan pola tradisional konvensional, tetapi harus diimbangi dengan memanfaatkan kemajuan teknologi untuk memberikan pengetahuan kepada peserta didik secara maksimal.

Seorang guru yang hidup di era digital harus mampu mengelola semua tantangan dan peluang yang ada sehingga memberi dampak positif bagi dunia pendidikan. Tentu semua tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi kita harus memberi hati dan pikiran penuh untuk mengelola tantangan dan peluang ini. Menjadi guru di era digital bukanlah hal yang mudah tantangan terkait dengan pengembangan peran dan keterampilan, kesenjangan teknologi dan akses, perubahan dalam kurikulum dan pembelajaran, keamanan dan etika digital, perubahan ulasan dan penilaian (Astini, 2018).

 

B.     ISI

1.      Arti Tantangan dan Peluang

Menurut KBBI tantangan adalah hal atau objek yang dapat menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah. Menurut Rollings dan Ernest tantangan mengacu pada kompetisi dan hambatan yang dihadapi dalam aktivitasnya. Tantangan dapat mengispirasi individu untuk memenangkan kompetisi dan menyelesaikan rintangan, untuk mencapai sebuah prestasi.

Peluang menurut KBBI adalah adalah kesempatan. Thomas W. Zimmerer mengatakan peluang adalah penerapan kreativitas dan inovasi untuk memecahkan masalah dan melihat kesempatan yang ada. Selanjutnya Arif F. Hadipranata berkata peluang adalah kondisi yang memungkinkan individu atau organisasi untuk memanfaatkan situasi yang menguntungkan dalam berbisnis.

Dengan melihat arti dari kedua kata tersebut, maka terlihat hubungan yang erat diantara keduanya. Bahwa tantangan yang dihadapi oleh seseorang akan membuat ia mengeluarkan segenap kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang ada dan pada akhirnya akan menghasilkan suatu peluang yang mendatangkan suatu keuntungan.

 

2.      Tantangan Guru di Era Digital

Era digital adalah masa di mana teknologi informasi dan komunikasi (TIK) menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Era ini ditandai dengan perkembangan teknologi yang pesat, sehingga memungkinkan manusia untuk mengakses dan menyebarkan informasi dengan cepat melalui berbagai perangkat digital. Bill Gates mengatakan bahwa teknologi hanyalah alat. Dalam hal membuat anak-anak bekerja sama dan memotivasi mereka, guru adalah yang terpenting.

Di era digital guru memiliki berbagai tantangan yang massif, sehingga membutuhkan atensi yang serius dalam menghadapinya. Beberapa tantangan yang mungkin terjadi antara lain:

a.    Krisis Moral

Tidak dapat dipungkiri bahwa siswa hari ini sangat jauh bebeda sikap dan karakternya dibanding dengan 20 atau 30 tahun yang lalu. Pelajar bisa mengakses segala informasi dengan begitu mudah. Siswa bahkan guru pun bisa kecanduan dengan gadget. Siswa yang biasanya mengendalikan segala bentuk permainan di gadget akan terbawa ke dalam kehidupan nyata, sehingga saat apa yang diharapkan tidak tercapai maka bisa bertindak amoral. Belum lagi video-video kekerasan yang tidak mendidik, akan berdampak buruk bagi perilaku seorang pelajar.

b.   Krisis Sosial

Jika 20 atau 30 tahun yang lalu siswa suka berkumpul dengan teman-temannya untuk bermain pecah piring, maka hari ini mereka lebih memilih untuk berdiam diri di kamar atau di pojok-pojok rumah dengan gadget ditangannya. Mereka tak butuh lagi tegur sapa dari orang lain termasuk guru dan orang tuanya. Bahkan hal ini menular juga ke kalangan orang dewasa (guru dan orang tua). Dulu di kantor guru selalu terdengar perbincangan dan gelak tawa, tetapi hari-hari ini yang terlihat adalah guru-guru yang memasang headseat di telinga sambil senyum-senyum sendiri.

c.    Keterampilan Melek Digital

Melek digital atau literasi digital adalah kemampuan untuk menggunakan media digital, alat komunikasi, dan jaringan internet dengan baik, bijak, dan cermat. Ini merupakan sebuah tantangan bagi seorang guru. Tidak ada alasan untuk mengatakan tidak bisa, karena hampir semua lini kehidupan sudah mengarah kedigitalisasi. Seorang guru harus bisa mengarahkan siswa untuk memanfaatkan media digital sebagai alat bantu dalam pembelajaran. Tetapi pemanfaatan media digital ini juga harus baik, bijak dan cermat sehingga tidak mendatangkan dampak negatif bagi perkembangan siswa.

d.   Perkembangan IPTEK

Perkembangan IPTEK adalah sesuatu yang tidak bisa dibendung. Dampak positif dan negatif dari perkembangan ini akan selalu berjalan berdampingan. Ini adalah tantangan besar bagi guru dan dunia pendidikan. Perkembangan IPTEK tidak boleh dihindari, tetapi tidak serta merta semua dikuti tanpa ada batasan-batasan yang jelas. Maka bukan tentang bagaimana IPTEK itu berkembang, tetapi lebih kepada pengelolaan dalam pemanfaatannya sehingga dampak negatifnya dapat ditekan.

e.    Menjadi Teladan

Kembali ke makna dasar, bahwa guru berarti digugu dan ditiru. Bahwa di era digital ini sangat diperlukan role model. Role model adalah sosok yang dapat dijadikan panutan atau teladan, baik dari segi tindakan, cara berpikir, perkataan, maupun sifatnya. Jika guru sendiri selalu fokus kepada gadget yang di tangan termasuk pada saat jam pembelajaran, maka ini menjadi contoh buruk di dunia pendidikan.

f.    Penggunaan Media Pembelajaran Berbasis Teknologi

Guru dalam tugas utamanya sebagai pengajar dan pendidik mau tidak mau harus menggunakan teknologi sebagai media dalam pembelajaran, sehingga tidak terkesan kurang mampu di mata siswa. Di awal penulis mengajar di tingkat SMK tahun 2006, hampir semua proses pembelajaran dilaksanakan secara manual. Soal ulangan sering saya tulis tangan kemudian digandakan. Tetapi hari ini dengan media pembelajaran berbasis teknologi, saya cukup membuat di apikasi power point dan ditampilkan dengan LCD proyektor sehingga terlihat lebih menarik tampilannya dan lebih efektif dalam hal waktu dan dana. Bahkan utamanya siswa lebih tertarik dalam proses belajarnya.

 

3.      Peluang Guru di Era Digital

Peristiwa Covid-19 adalah masa kelam bagi dunia kesehatan di seluruh dunia. Tidak hanya aspek kesehatan, tetapi semua aspek kehidupan mengalami masa-masa yang sulit oleh karena Covid-19. Dunia pendidikan juga mengalami guncangan, orang tua stress dengan anak-anak yang harus belajar dari rumah. Guru harus berpikir keras bagaimana materi ajar bisa disampaikan dari jarak jauh. Tapi ternyata Tuhan tak pernah salah dalam melakukan sesuatu bagi umatNya. Bahwa melalui peristiwa Covid-19, guru-guru termotivasi untuk berkreasi menggunakan teknologi sebagai alat yang mumpuni dalam proses belajar siswa.

      Sebelum Covid-19 banyak guru tidak tahu menggunakan aplikasi Google Drive, Google Form, Google Classroom, Youtube dan lain-lain. Penulis sendiri dalam hal ini mengakui, bahwa semua itu akhirnya di pahami saat pembelajaran dilaksanakan secara daring di masa Covid-19, sehingga sebagian besar diterapkan sampai hari ini walaupun pembelajaran sudah kembali normal secara luring (tatap muka).

      Adapun peluang yang dapat dimanfaatkan guru di era digital antara lain:

a.       Kolaborasi Global

Era digital membuka peluang bagi terjadinya kolaborasi global yang lebih luas. Siswa dapat berkomunikasi dengan teman-temannya walaupun berjauhan. Mereka tidak ketinggalan informasi walaupun mungkin ada yang tidak bisa hadir di sekolah di hari tertentu. Dengan media digital mereka bisa saling mengingatkan tentang tugas-tugas yang diberikan oleh guru. Tentu dalam hal ini guru harus tetap memantau sejauh mana siswa melakukan kolaborasi. Melaui grup whatsapp guru bisa melihat sejauh mana kolaborasi itu dilakukan.

b.      Sumber Belajar yang Luas

Media internet merupakan sumber daya pendidikan yang tak terbatas. Dalam hal ini guru bisa memanfaatkan materi-materi pendidikan daring yang tersedia secara gratis atau berbayar untuk memperkaya materi ajar mereka. Melalui berbagai aplikasi yang tersedia guru bisa membuat pembelajaran lebih menarik. Melalui tayangan Youtube siswa akan merasa tertarik untuk belajar. Dengan menggunakan aplikasi power point tampilan materi ajar juga menarik bagi siswa. Melalui quiziz dan google form guru bisa melakukan penilaian yang tidak dibatasi ruang dan waktu.

c.       Penilaian yang lebih Akurat dan Efektif

Dengan menggunakan media digital khususnya komputer, maka akan mempermudah guru dalam proses penilaian dan pengolahannya. Dengan menggunakan program Excell, maka data-data nilai siswa akan terekap lebih cepat dan akurat.

d.      Pendidikan Inklusif

Media digital dapat menjadi alat untuk meningkatkan akses pendidikan bagi individu dengan kebutuhan khusus. Jika ada anak yang cerdas istimewa, maka guru bisa mengarahkannya untuk mengasah kemampuannya melalui simulasi-simulaisi secara online.  Media digital juga dapat membantu siswa dengan beragam kebutuhan belajar sehingga bisa mengatasi hambatan mereka dalam belajar. Dengan demikian semua peserta didik mendapat akses pendidikan yang sama sesuai dengan keberadaan mereka.

e.       Mendapat Tambahan Penghasilan

Selain menolong dalam tugas-tugas sebagai pendidik dan pengajar, guru yang kreatif menggunakan media digital bisa memperoleh tambahan penghasilan. Ketika ia membagikan hasil-hasil karyanya melalui blog, youtube, dan lain-lain, dan banyak yang menjadi subscriber dan jam tanyangnya semakin besar, maka itu akan menjadi peluang mendapatkan tambahan penghasilan diluar pekerjaan sebagai guru. Tetapi tentu bukan ini yang menjadi motivasi dalam melakukannya.

 

4.      Mengelola Tantangan dan Peluang Guru di Era Digital

Pegadaian memiliki slogan: “Mengelola masalah tanpa masalah”. Artinya semua masalah bisa dikelola dengan baik, tanpa menghindari atau menjauhi masalah tersebut. Tentu dibutuhkan profesionalitas untuk mengelola suatu masalah sehingga mendatangkan kebaikan bagi semua. Guru sebagai suatu profesi harus memiliki kemampuan pengelolaan yang baik khususnya saat melakukan proses belajar mengajar di sekolah.

Adapun hal yang bisa dilakukan guru dalam mengelola tantangan dan peluang di era digital antara lain:

a.       Memanfaatkan media digital dengan tepat guna

Masa Covid-19 mendorong para guru untuk menggunakan berbagai aplikasi dalam pembelajaran jarak jauh. Dalam hal ini penulis pun melakukan hal yang sama, bahkan saat situasi pembelajaran kembali normal ini tetap dilakukan. Membuat blog pribadi dan Youtube :

·         https://nelsonbiring.blogspot.com/2020/03/kisi-kisi-ujian-sekolah-smp-swasta.html

·         https://sdnegeri064960.blogspot.com/2023/10/mendidik-pelajar-yang-anti-korupsi.html

·         https://www.youtube.com/watch?v=zsHQmZAq_qk

·         https://www.youtube.com/watch?v=Qe9jhrLE6OE&t=365s

Media digital yang digunakan dengan tepat guna akan memberikan banyak manfaat bagi semua orang khususnya siswa dalam kegiatan belajar.

b.      Berkolaborasi dengan orang tua siswa

Seorang guru harus menjalankan fungsi pengawasan terhadap aktivitas siswa dalam memanfaatkan teknologi dengan baik. Sebab jika tidak dilakukan pengawasan, maka dampak positif teknologi akan tergerus oleh dampak negatifnya. Sebab di era digital segala informasi bisa diakses siswa dengan cepat dan mudah. Konten-konten negatif tanpa dicari pun akan muncul dengan sendirinya saat kita membuka internet. Maka dalam hal ini orang tua dan guru harus berkolaborasi untuk terus mengingatkan dan memantau, bahkan membuat batasan waktu bagi siswa dalam menggunakan media digital. Bahkan guru bisa mengarahkan orang tua untuk mengatur gadget anak-anak mereka untuk menggunakan mode aman, sehingga situs-situs negatif akan langsung difilter.

c.       Guru menjadi role model bagi siswa

Seorang ibu membawa anaknya kepada Mahatma Gandi untuk dinasihati karena kecanduan permen karet sehingga giginya mulai rusak. Mahatma Gandhi berkata: “Ibu, pulanglah dan datang seminggu lagi”. Dengan keheranan ibu itu pulang bersama anaknya. Seminggu kemudian ibu itu kembali datang. Mahatma Gandhi memberikan beberapa nasihat (cara) untuk bisa lepas dari kecanduan makan permen karet. Kemudian si ibu bertanya: “Mengapa tidak minggu lalu bapak menasihati anak saya, sehingga hari ini kami harus datang kembali?”. Kata Gandhi: “Ibu, seminggu yang lalu saya adalah pecandu permen karet, dan dalam satu minggu ini saya berusaha untuk menguranginya bahkan sampai berhenti makan permen sehari sebelum ibu datang lagi. Dan apa yang saya sampaikan barusan adalah pengalaman saya selama seminggu ini untuk berhenti makan permen karet, maka saya yakin anak ibu juga akan berhasil terlepas dari kecanduan ini”.

Guru yang artinya digugu dan ditiru harus menjadi contoh yang baik bagi siswanya dalam pemanfaatan media digital. Penulis selalu mengarahkan siswa untuk menggunakan internet secara positif, tentu dengan terlebih dahulu melakukannya dan menyampaikan apa yang dilakukan itu agar siswa dapat melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam pembelajaran.

d.      Menekankan nilai-nilai agama

Sesuai dengan bunyi profil pelajar Pancasila yang pertama: Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, maka seorang guru harus selalu menyampaikan pesan-pesan agama kepada siswanya. Bahwa semua ajaran agama menekankan untuk menghindari perbuatan negatif. Bahwa saat anak-anak menggunakan media digital harus berhati-hati dengan konten-konten negatif yang bisa membuat prilaku siswa menyimpang dari ajaran agama.

           

C.     KESIMPULAN DAN SARAN

Perkembangan IPTEK tak mungkin dibendung, tetapi harus disikapi oleh semua pihak. Seorang guru sebagai agen perubahan harus selalu siap dengan segala tantangan dan peluang di era digital. Segala tantangan dan peluang yang ada di dunia pendidikan harus dikelola dengan sebaik mungkin sehingga berdampak positif bagi para siswa. Pemahaman seorang guru harus terus di up grade sesuai dengan kebutuhan di lapangan, sehingga mampu mengimbangi generasi yang sedang berjalan. Sembari terus bergerak menjadi agen perubahan, seorang guru harus tetap menjadi panutan dan teladan (role model) bagi siswanya.

Menjadi guru adalah panggilan jiwa, jadilah insan pendidik bangsa yang akan membawa perubahan besar bagi bangsa Indonesia bahkan dunia. Terus bergerak maju untuk melaksanakan amanat UUD 1945 mencerdaskan kehidupan bangsa.

Penulis: Nelson Sembiring, S. Pd., M. Th. (Guru SD Negeri 064960 Medan)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Galilea Atau Laut Mati ?